Jumat, 10 Juni 2016

Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak

Ada pepatah mengatakan bahwa wanita adalah tiang suatu Negara. Sebenarnya tidak berlebih jika terdapat kalimat demikian. Karena wanita merupakan makhluk yang secara kodrati melahirkan anak, dan menjadi pelestari jenisnya. Meskipun tanpa kehadiran pria, seorang wanita juga mustahil memiliki keturunan, namun wanita lah yang selanjutnya mengambil fungsi utama di dalam proses reproduksi hingga terlahir seorang bayi dan selanjutnya berkembang menjadi anak yang lebih besar. Untuk itu kesehatan Ibu, Bayi dan Anak sangat perlu mendapatkan perhatian ekstra.
Negara memberikan jaminan penuh khususnya bagi kesehatan ibu dan anak. Di Indonesia, saat ini sudah terdapat jaminan kesehatan bagi ibu semenjak mempersiapkan pernikahan melalui imunisasi, hingga ibu mengandung, melahirkan serta merawat bayi di luar kandungan. Gizi dan kesehatan anak pun diberi perhatian yang cukup oleh pemerintah. Pada saat ibu hamil, maka terdapat program pemeriksaan rutin terhadap kandungan, dilanjut dengan program melahirkan gratis bagi keluarga kurang mampu dan selanjutnya program imunisasi dan posyandu. Semua memiliki harga yang sangat terjangkau bahkan gratis untuk melahirkan melalui jaminan persalinan. Hal tersebut menunjukkan kepedulian Negara terhadap status kesehatan ibu bayi dan anak.
Telah diketahui bahwa kesehatan ibu sangat memberikan dampak besar bagi kesehatan bayi yang dilahirkan serta tingkat perkembangan bayi menjadi anak yang lebih besar. Bisa dibayangkan apabila seorang ibu mempunyai kualitas kesehatan yang rendah, misalnya terjadi gizi buruk di mana asupan gizi bagi ibu hamil dan menyusui akan memberikan pengaruh terjadinya mal nutrisi pada bayi yang dikandung dan menurunkan kualitas air susu. Padahal asupan ibu akan menjadi bahan makanan bagi janin melalui plasenta dan bayi yang minum ASI. Maka kekurangan gizi pada ibu akan menimbulkan ketimpangan dalam perkembangan anak. Bahkan sampai anak sudah disapih pun, kesehatan ibu penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak selanjutnya. Ibu yang sehat  mampu memberikan pendidikan dan kelayakan hidup bagi anak-anaknya, baik melalui aktivitas rumah tangga maupun ekonomi. Betapa pentingnya kesehatan ibu bayi dan anak.

Manfaat Imunisasi untuk Bayi dan Anak

Anda pasti sudah sering mendengar istilah Imunisasi, tapi mungkin Anda belum tahu lebih dalam apakah sebenarnya Imunisasi dan apa manfaat dari Imunisasi ini. Nah, Program Imunisasi ini adalah cara terbaik untuk melindungi seseorang dari serangan penyakit yang berbahaya dan juga mematikan khususnya bagi Bayi dan Anak-anak. Banyak sekali kematian akibat penyakit bisa dicegah dengan menggunakan Imunisasi ini, akan tetapi banyak orang yang masih meragukan tentang keamanannya. Berikut akan dijelaskan apakah manfaat Imunisasi untuk Bayi dan Anak.
Imunisasi di Indonesia mulai dikenal oleh masyarakat pada tahun 1970 dimana saat itu yang ditarget tentu saja Bayi dan Anak-anak. Ya, pemberian Imunisasi pada Bayi ini bertujuan agar tidak rentan terkena penyakit sejak dini sehingga ketika tumbuh Dewasa, Bayi tersebut bisa hidup dengan sehat dan aktif. Sejak dulu, Imunisasi ini pada dasarnya bertujuan untuk membangkitkan kekebalan tubuh yang ada didalam tubuh manusia sehingga mampu menepis penyakit berbahaya yang akan menyerang tubuh, tanpa menimbulkan efek samping atau pun efek berbahaya lainnya.
Ada beberapa penyakit infeksi yang cukup berbahaya dan bisa dicegah dengan baik oleh Imunisasi ini, di antaranya : Penyakit Polio, Campak, Hepatitis A, Hepatitis B dan juga Tetanus. Memang tidak semua penyakit ini membahayakan jiwa manusia, akan tetapi jika tidak diberikan Imunisasi untuk mencegahnya maka kejadian seperti cacat tubuh sangat mungkin untuk terjadi. Nah untuk lebih jelasnya mengenai Imunisasi, berikut adalah Manfaat Imunisasi untuk Bayi dan Anak :
1. Menghindarkan Bayi dari Serangan Penyakit
Tentu saja seorang Ibu atau Ayah yang mengikutkan anaknya dalam program Imunisasi ingin agar anaknya kebal dari berbagai macam penyakit yang cukup berbahaya dan menular. Ya, dengan melakukan Imunisasi sejak dini ini akan memberikan Bayi kehidupan yang sehat hingga dirinya tumbuh menjadi dewasa dan juga aktif.
2. Memperkecil Kemungkinan Terjadinya Penyakit Menular
Hmm.. apakah mungkin ini bisa? Ya tentu saja, dengan memberikan Imunisasi pada sang Bayi, maka Anda sudah menambah jumlah manusia yang memiliki kekebalan tubuh tinggi terhadap penyakit. Sehingga apabila jumlahnya semakin banyak, kemungkinan besar sangat sedikit penyakit menular yang masih berkeliaran di luar sana. Tentunya Anda sebagai Orang Tua bisa bernafas lega karena Anda tidak perlu khawatir dengan Anak Anda yang hobi bermain di luar atau bersosial dengan yang lainnya.
3. Meningkatkan Kesehatan Nasional
Manfaat Imunisasi ini selain bisa menghindarkan para Bayi dan Anak-anak dari penyakit menular juga bisa meningkatkan taraf kesehatan nasional. Ya, semakin banyak Anak yang sudah diberikan imunisasi maka akan semakin memperkecil penyakit untuk menyebar dimanapun termasuk taraf nasional. Apabila Imunisasi ini dibudayakan oleh semua orang maka bukan tidak mungkin jika mereka pun yang belum di Imunisasi secara lengkap bisa merasa aman dari penyakit tersebut. Dan tentunya ini akan sangat menyenangkan bukan?
Begitu besar Manfaat Imunisasi untuk Bayi dan Anak Anda, jadi apakah saat ini Anda masih meragukan program Imunisasi yang sangat direkomendasikan oleh para Ahli Kesehatan ini? Boleh saja Anda masih ragu dan takut efek sampingnya karena memang Imunisasi menggunakan obat-obatan yang bersifat kimia, akan tetapi ada baiknya Anda mengkonsultasikan permasalahan ini dengan para Dokter ataupun Ahli Kesehatan, sehingga nantinya Anda bisa mendapatkan penjelasan yang baik dan Anak Anda juga tidak terlambat dalam pencegahan penyakit.

Tips Agar Diet Terasa Menyenangkan

Lupa kalau sedang diet bisa disebabkan oleh melambatnya aliran darah ke otak, sehingga bagian pusat memori kehilangan fungsinya untuk mengingat-ingat. Demikian juga rasa bosan, sering muncul tiba-tiba karena bagian pengatur rasa senang di otak tidak bekerja.
Agar diet terasa menyenangkan dan tidak mudah terlupakan karena bosan, ada beberapa cara mudah yang bisa dilakukan seperti diutip dari MensHealth.com, Kamis (2/8/2012) berikut ini.

1. Tak Perlu hindari makanan favorit
Semisal lebih suka nasi putih daripada nasi merah, maka tidak perlu ragu untuk mengonsumsi nasi putih meski nasi merah dikatakan jauh lebih sehat. Alan Aragon, MS, ahli nutrisi dari Menshealth mengatakan asalkan masih 80-90 persen sesuai dengan kebutuhan serat utuh atau dengan pengolahan minimal, maka sumber karbohidratnya tidak perlu diganti.

Penjelasan rasional dari saran tersebut adalah masalah rasa. Ketika seseorang merasa nyaman dan enak dengan makanannya, maka orang tersebut akan lebih teratur mengonsumsinya dan jika konsisten maka keberhasilannya dalam jangka panjang akan lebih besar.

2. Gunakan kedua tangan bergantian
Meski bukan orang kidal, tidak ada salahnya sesekali memegang sendok dengan tangan kiri dan garpu dengan tangan kanan. Para peneliti dari University of Southern California mengatakan bahwa makan dengan tangan yang kurang dominan bisa membuat seseorang lebih perhatian dengan apa yang dia makan sehingga terhindar dari makan berlebihan.

"Apapun yang bisa Anda lakukan pada kebiasaan fisik saat makan, pasti akan membantu," kata David Neal, PhD, direktur Empirica Research terkait saran tersebut.

3. Seimbangkan kalori yang masuk dan yang keluar dengan olahraga rutin
Cukup seimbangkan pembakaran energi dengan asupan kalori yang dikonsumsi, sekedar untuk menghindari perasaan sia-sia karena sudah susah-susah mengatur pola makan.

Diet yang baik tidak akan ada manfaatnya kalau tidak dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang seimbang. Aragon mengatakan bahwa olahraga sama pentingnya dengan pengaturan makan yang baik, lalu menyarankan untuk berolahraga minimal 3 kali seminggu masing-masing selama 30-60 menit. - Tips Agar Diet Terasa Menyenangkan.

Makanan Padat Pertama Untuk Bayi

                                                    Makanan Padat Pertama Untuk Bayi 
Selama 50 tahun dokter anak telah merekomendasikan makanan padat pertama bagi bayi yang tepat adalah sereal beras putih. Sereal beras putih bebas gluten dan bebas alergi, yang mudah dicerna oleh kebanyakan bayi.
Tapi Dr. Alan Greene, dokter anak di Stanford University telah mempelajari hal ini dan menyatakan bahwa sereal beras putih rentan terhadap obesitas. Bahkan sereal beras putih merupakan salah satu epidemi obesitas pada anak.

"Sereal beras putih memang bermanfaat terhadap pencernaan, tetapi sereal ini juga tinggi kalori dan terbuat dari tepung putih olahan. Hal ini sama saja seperti membuat bayi Anda seperti makan sesendok gula," kata Greene seperti dilansir dari abcnews, Rabu (6/6/2012)

Sebaliknya, Greene menyarankan bahwa sereal beras merah atau gandum padat yang dikombinasikan dengan bubur buah-buahan dan sayuran adalah pilihan yang sehat untuk bayi. Perbedaan kandungan glukosa pada beras putih dan beras merah sangat besar.

"Obesitas adalah tentang kelebihan kalori, bukan tentang makanan tertentu. Ide untuk memfokuskan perhatian terhadap sereal beras merah dibandingkan beras putih diperkaya bukan merupakan strategi yang tepat," kata Keith Ayoob, seorang profesor pediatri di Albert Einstein College of Medicine.

Perilaku orangtua juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kesehatan bayi. Orangtua yang memberi makan bayi untuk menenangkan bayi ketika rewel dan bukan ketika bayi lapar, lebih mungkin untuk berkontribusi terhadap kelebihan berat badan daripada memilih untuk memberi makan sereal beras putih atau beras merah.

American Academy of Pediatrics tidak membedakan antara sereal beras putih atau sereal beras merah, tapi malah merekomendasikan bahwa sereal yang baik untuk bayi Anda adalah yang diperkaya zat besi. - Makanan Padat Pertama Untuk Bayi.

Kamis, 09 Juni 2016

7 Tips Agar Pencernaan Lancar Dan Terhindar Dari Sembelit

                                                           Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 7 Tips Agar Pencernaan Lancar dan Terhindar Dari Sembelit

7 Tips Agar Pencernaan Lancar Dan Terhindar Dari Sembelit

  • Hentikan kebiasaan ngemil diantara jam makan
Jangan makan cemilan dahulu sebelum makanan yang Anda makan sebelumnya telah selesai dicerna. Jika jarak antara sarapan, ngemil dan makan siang terlalu sedikit, saluran pencernaan Anda akan mengalami penumpukan makanan dan akan menyebabkan sembelit.
  • Kurangi konsumsi makanan olahan
Makanan olahan atau makanan kemasan memiliki umur simpan tertentu dan biasanya mengandung pengawet yang tidak baik untuk kesehatan pencernaan.
  • Cegah dehidrasi
Salah satu alasan sembelit adalah karena Anda mengalami dehidrasi. Ketika tubuh mengalami dehidrasi, usus besar adalah organ yang pertama kali merasakan akibatnya. Usus besar yang sehat memiliki persentase cairan yang sangat tinggi.

Tubuh Anda juga membutuhkan cairan dari usus besar untuk mendukung organ-organ tubuh lainnya. Oleh karena itu Anda perlu banyak minum air hingga 8 gelas per hari.
  • Kurangi konsumsi makanan yang sifatnya kering
Makanan yang kering seperti kacang, keripik, dan biskuit dapat menghambat proses pencernaan dan menyebabkan sembelit. Ketika Anda mengonsumsinya, perbanyaklah minum air putih.
  • Rajin Berolahraga
Olahraga dapat meningkatkan aliran darah ke usus dan meningkatkan motilitas gastrointestinal. Sehingga pencernaan lancar dan terhindar dari sembelit.
  •  Pijat perut
Berikan pijatan lembut pada perut ketika sedang bersantai atau dalam keadaan perut yang tidak penuh. Hal ini akan membuat kondisi perut Anda rileks dan tenang sehingga mampu mencerna makanan dengan baik.
  • Tarik napas panjang
Luangkan waktu untuk menarik napas panjang, tujuannya adalah untuk meningkatkan aliran darah ke sistem pencernaan. Saat bernapas, sistem saraf Anda akan tenang dan mampu memperlancar proses pencernaan. - 7 Tips Agar Pencernaan Lancar dan Terhindar Dari Sembelit.

Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak

                                            Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak
seorang anak yang kerap tidak akur dan sering berselihih dengan orangtuanya memiliki resiko mengalami obesitas 2x lebih besar.
Studi terbaru yang dimuat pada of Paediatric menyatakan, seorang anak yang memiliki hubungan kurang baik dengan orangtua khususnya ibu memiliki resiko mengalami kegemukan atau obesita sebesar 26,1% ketika berumur 15 tahun. Sedangkan anak yang memiliki hubungan baik dengan si ibu hanya beresiko sebesar 13%.
Penelitian yang dipimpin oleh Prof Sarah Anderson ini menyatakan, hubungan secara emosional anak dengan ibunya secara tidak langsung bisa mempengaruhi pola makan pada anak. Orangtua yang renggang dengan anaknya rentan sekali kesulitan mengajari si anak bagaimana cara mengahadapi stres, akhirnya pola dan jadwal makan terganggu.

”Sebenarnya obesitas di usia anak-anak dapat dicegah dengan membina hubungan emosional antara anak dengan orangtua, daripada membuat aturan pola makan pada anak,” ungkap Prof Sarah Anderson.

Menurutnya, kemampuan seorang mengatasi stres bukan hanya berpengaruh pada pola dan jadwal makannya tetapi berpengaruh juga pada pola tidur. Anak yang rentan mengalami stres cenderung sulit memulai tidur, sehingga metabolismenya terganggu dan mengakibatkan obesitas.

Hubungan antara ibu dan anak yang kurang baik dianggap juga memiliki kedekatan emosional yang buruk. Hasil dari studi ini menunjukkan, faktor kedekatan emosi bukan hanya berpengaruh pada psikologis tetapi berpengaruh juga pada fisik si anak.

Kegemukan atau obesitas pada anak bisa berhubungan erat dengan resiko beberapa penyakit seperti diabetes mellitus juga penyakit jantung. Semua resiko ini sebenarnya bisa dihindari dengan mengatur pola makan, mengatasi stres dan olahraga secara rutin - Peran Orangtua Terhadap Terjadinya Obesitas Pada Anak.

Tantangan Umum Bagi Ibu Saat Memberikan ASI

                                                       Tantangan Umum Bagi Ibu Saat Memberikan ASI
Banyak hal yang menyebabkan gagalnya pemberian ASI. Meski begitu, sebagian besar tantangan ini umumnya bisa diatasi dengan bantuan konsultan laktasi. Untuk mengetahui lebih lanjut apa saja tantangan yang umum dijumpai saat memberikan ASI, berikut adalah ulasannya seperti yang dipaparkan dalam laman healthychildren.org : 

  • Rasa yang berubah
Satu hal yang perlu dipertimbangkan ketika bayi Anda tak mau lagi menyusu adalah apakah rasa ASI Anda telah berubah. Rasa ASI dapat berubah karena beberapa alasan, misalnya mengonsumsi  makanan yang berbeda, pengaruh obat, olahraga berat yang dapat menyebabkan penumpukan sementara asam laktat, infeksi payudara seperti mastitis, perubahan rasa kulit yang disebabkan oleh penggunaan lotion, krim atau minyak pada payudara.

Menghindari faktor pemicu di atas mungkin dapat mendorong bayi untuk menyusui pada tingkat yang normal. Jika Anda mengalami mastitis ( (infeksi pada jaringan payudara), segera konsultasikan ke dokter. Setelah infeksi diobati, rasa ASI anda akan kembali normal. 

Jika bayi Anda lebih cepat berhenti menyusu, cobalah memijat payudara Anda dan memompa sedikit susu sebelum Anda mulai menyusui. Dengan cara ini, ASI Anda akan mengalir lebih cepat dan bayi Anda akan merasa lebih puas.


  • Stres
Jika Anda tidak yakin bahwa rasa ASI yang menyebabkan masalah, pertimbangkanlah apakah Anda sedang mengalami ketegangan atau stres. Ketidaknyamanan emosional tersebut dapat dikomunikasikan kepada bayi Anda untuk mengurangi tingkat stres. Seorang ibu memang tidak bisa selalu bebas dari stres, tetapi untuk saat-saat tertentu (sebelum menyusui), lakukanlah kegiatan yang menyenangkan yang bisa membuat pikiran Anda rileks. Mengambil waktu untuk santai sejenak tidak hanya membantu bayi Anda mendapatkan lebih banyak ASI tetapi juga menurunkan tingkat stres pada diri Anda sendiri. 

  • Penyakit
Adanya penyakit tertentu yang dialami bayi mungkin akan membuatnya lebih sulit untuk menyusui. Menurunnya minat makan yang disertai kelesuan, muntah demam, atau diare, batuk, atau kesulitan bernapas mungkin mengindikasikan suatu penyakit tertentu. Konsultasikan kepada dokter anak atau dokter keluarga jika bayi Anda menolak makan.

Penyakit pada bayi dapat mempengaruhi pola makan bayi sehingga menurunkan jumlah ASI yang diterimanya. Jika bayi Anda mengalami pilek dan menyebabkan hidung tersumbat, mungkin akan sulit baginya untuk bernapas saat makan. Membersihkan saluran hidung bayi dengan semprotan sebelum makan dapat membantu mengatasi sumbatan pada hidung untuk sementara. Masalah lain seperti ingin tumbuh gigi juga dapat menyebabkan sakit gusi saat menyusui. 


  • Gumoh
Gumoh adalah kondisi yang seringkali menimpa hampir setiap bayi. Namun sebenarnya kondisi ini tidak perlu terlalu dikhwatirkan. Selama bayi Anda tampak nyaman dan tidak mengalami masalah berat badan, hal itu tampaknya bukan menjadi masalah serius. Tetapi bila gumoh terlalu sering dialami oleh bayi, memang harus diwaspadai. Bisa jadi ini adalah gejalagastroesophageal reflux disease (GERD), sehingga perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Gumoh sebetulnya dapat diminimalkan dengan membuat suasana menyusui tenang dan santai. Hindari interupsi, suara yang mengagetkan bayi, cahaya terang, dan gangguan lainnya. Cobalah untuk menggendong bayi Anda lebih tegak selama dan setelah menyusui. Jangan mengajak bayi Anda bermain segera setelah ia selesai menyusu.

Jika bayi Anda muntah beberapa kali dan melihat darah atau warna hijau gelap ketika ia muntah, hubungi dokter anak segera. Biasanya dokter akan memantau berat badannya dan memeriksa tanda-tanda penyakit yang lebih serius.


  • Dehidrasi
Cara terbaik untuk memastikan bayi Anda mendapatkan cukup ASI adalah untuk memantau kondisi fisiknya, berat badan, dan isi popoknya. Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak jika Anda melihat anak Anda tidak menunjukkan minat makanan, mulut atau mata kering, atau memproduksi popok basah lebih sedikit dari biasanya. Ini mungkin tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi berat umumnya jarang terjadi pada bayi yang cukup mendapat ASI. Dehidrasi pada bayi bisa sangat berbahaya atau bahkan mengancam jiwa dan yang paling mungkin terjadi ketika bayi menolak untuk makan, sering muntah atau diare. - Tantangan Umum Bagi Ibu Saat Memberikan ASI.